Sejumlah Orang Tua di Bandung Sebut Penerapan Zonasi Hanya Menguntungkan Sepihak

Rabu, 19 Juni 2019 - 15:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi PPDB. (Sumber: Ist/Net)

Ilustrasi PPDB. (Sumber: Ist/Net)

Penulis: Q Agus/Kiki

BANDUNG, SOROTPUBLIK.COM – Sejumlah orang tua di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, mengeluhkan kebijakan sistem Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Pasalnya, akibat kebijakan tersebut anak mereka tidak bisa menggapai cita untuk masuk ke sekolah yang diinginkan di tahun ajaran 2019-2020 ini.

Salah satu keluhan disampaikan oleh Zaelani. Ia menceritakan anaknya yang termasuk 10 besar siswa terbaik di sekolah, terpaksa tak bisa masuk sekolah yang diinginkan karena adanya sistem Zonasi PPBD.

“Tadinya anak saya didaftarkan ke SMKN Katapang, karena ini memang merupakan keinginannya. Tapi dengan adanya zonasi, anak saya mau tak mau harus taat dengan peraturan tersebut,” ungkapnya, Rabu (19/06/2019).

Memang diakui Zaelani, penerapan zonasi bertujuan untuk kepentingan wilayah, agar masyarakat bisa cerdas dan pintar dengan merata. Tapi secara personal, itu dianggapnya merugikan wilayah-wilayah tertentu.

“Seperti Desa Cilame, Kecamatan Kutawaringin, tidak ada SMU/K. Jadi harus lintas wilayah, dan harus menunggu kekosongan kuota sekolah,” tuturnya.

“Kalau tidak terpaksa masuk sekolah swasta. Karena walau bagaimanapun kami berkeinginan anak-anak kami bisa meraih cita-citanya melalui perolehan pendidikan,” imbuh Zaelani.

Hal yang sama dialami Rosita, warga Kecamatan Cangkuang. Ia berharap anaknya bisa melanjutkan di SMP Negeri Soreang.

Namun, ia mengetahui kalau itu tidak bisa dilakukan. Hanya saja karena anaknya bersikeras ingin ke sekolah itu, ia memaksakan diri berharap anaknya bisa diterima.

“Saya berharap pihak sekolah bisa mempertimbangkannya, mengingat anak saya termasuk 10 besar di sekolahnya. Lagian sekolah favorit di Kabupaten Bandung sangatlah terbatas,” tuturnya.

Sementara Dika di kesempatan yang sama mengungkapkan, kebijakan tersebut bisa diindikasikasikan pembodohan publik. Alasan Dika, dengan adanya keterbatasan melalui penerapan zonasi, bisa mempengaruhi psikologis anak dalam pembelajaran.

“Dan itu sudah sering terjadi. Anak yang dahulunya pintar menjadi biasa-biasa dikarenakan faktor keinginan bersekolah di tempat favorit harus kandas karena faktor zonasi,” ungkapnya.

“Kalau ngomong dengan dinas terkait, jelas mereka akan memberikan alasan akademisi karena terikat sumpah jabatan. Penjelasannya pun bisa dikatakan masuk akal walau tidak melakukan verifikasi ke lapangan dampak dari penerapan zonasi itu,” tutup Dika.

Berita Terkait

Puluhan Pohon di Wilayah Pantura Tumbang
RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Diduga Mencari Pencitraan
Warga Desa Campaka Tolak Pembangunan Tower
Stetmen Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Dipertanyakan
Puskesmas Ambunten Gelar Pembahasan Standard Pelayanan
Kades Pajenangger Diduga Lakukan Pemerasan
Beberapa Akses Jalan Kabupaten Rusak Parah
Akses Jalan Poros Desa Seperti Persawahan

Berita Terkait

Senin, 12 Januari 2026 - 09:29 WIB

Puluhan Pohon di Wilayah Pantura Tumbang

Jumat, 9 Januari 2026 - 07:07 WIB

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Diduga Mencari Pencitraan

Jumat, 9 Januari 2026 - 05:11 WIB

Warga Desa Campaka Tolak Pembangunan Tower

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:09 WIB

Stetmen Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Dipertanyakan

Selasa, 6 Januari 2026 - 15:32 WIB

Kades Pajenangger Diduga Lakukan Pemerasan

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bumdes Bunga Desa Gelar Musyawarah Desa dan Santunan Anak Yatim

Selasa, 13 Jan 2026 - 14:21 WIB

BERITA TERKINI

Puluhan Pohon di Wilayah Pantura Tumbang

Senin, 12 Jan 2026 - 09:29 WIB

BERITA TERKINI

RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep Diduga Mencari Pencitraan

Jumat, 9 Jan 2026 - 07:07 WIB

BERITA TERKINI

Warga Desa Campaka Tolak Pembangunan Tower

Jumat, 9 Jan 2026 - 05:11 WIB

BERITA TERKINI

Stetmen Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Dipertanyakan

Kamis, 8 Jan 2026 - 20:09 WIB