Tivi Versus YouTube, Sistem Alam Menggeser Sistem Baku (1)

Sabtu, 4 Januari 2020 - 19:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Tivi Versus YouTube. (Foto: Istimewa)

Ilustrasi Tivi Versus YouTube. (Foto: Istimewa)

SOROTPUBLIK.COM – Generasi lawas adalah istilah yang diberikan generasi anyar. Namun, hal itu tidak mutlak. Karena yang anyar nantinya menjadi lawas. Begitu seterusnya. Yang abadi dalam dunia fana ini, salah satunya hanyalah perubahan.

Ketika Indonesia berdaulat, tak ada yang melebihi tokoh-tokohnya yang berandil langsung dalam proses naiknya bendara merah putih dan kumandangnya isi proklamasi dari bumi Jayakarta. Bung Karno merupakan tokoh utamanya. Pemerintahannya yang lebih 20 tahun itu merupakan masa paling gemilang dalam pandangan generasi yang hidup kala itu.

Namun, setelah Bung Karno tumbang, dan Pak Harto “naik tahta”, era Bung Karno dan tokoh-tokoh penting dalam lahirnya Indonesia berdaulat itu, tak lebih dari sekadar “Orde Lama”. Sebaliknya, sang jenderal memberi nama eranya dengan “Orde Baru”. Namun, itu pun pada akhirnya tumbang pula di tangan yang sama, yaitu perubahan.

Televisi dan Generasi Lawas

Televisi muncul dalam bentuk yang sederhana, dan cukup makan ruang. Warnanya juga hanya berupa hitam putih. Mungkin menjadi simbol warna kehidupan. Atau bisa saja teknologi masih belum menjangkau penambahan warna.

“Namun, karena baru ada gambar bergerak, dengan tampilan yang sangat sederhana, di awal adanya, televisi merupakan benda super mewah,” kata R. Muhlis, generasi lawas 1970-an, Sabtu (3/01/2020)

Dalam satu kampung misalnya, seperti di desanya Muhlis, ada satu warga yang punya televisi itu sudah sangat lebih dari cukup. Anak-anak usia SD, khususnya, dengan penuh kegembiraan bertandang ke sana. Meski hanya duduk di lantai yang dingin. Namun, gambar di televisi menghangatkan suasana masa kecil generasi lawas.

“Padahal acaranya tidak seramai sekarang. Dulu tak banyak macamnya. Menu terbanyak ya berita. Durasi tayang juga tak seperti sekarang yang 24 jam non stop,” imbuh Muhlis.

Era selanjutnya, tivi hitam putih ditinggal penggemarnya. Beralih ke tivi warna. Jumlah yang memiliki juga bertambah. Dalam satu kampung bisa lebih dari 5 orang. “Itu di waktu akhir 1980-an. Mau masuk ke 1990-an,” jelas Muhlis.

Nurul, anak generasi 1990-an merupakan salah satu anak yang beruntung. Di rumahnya sudah ada tivi warna meski hanya 14 inchi. “Wah, senang sekali. Sebelum orang tua bisa beli, kan biasanya menyasar rumah tetangga sama teman-teman. Biasanya di hari Ahad,” kata guru SD ini.

Lambat laun, teknologi tambah maju. Televisi tambah bening dengan aneka varian acara sekaligus channel. Televisi lantas menjadi alat perang dalam era industri. Persaingan makin ketat. SDM ikut berpacu. Mereka yang tak bisa mengikuti ritme saing, tumbang. Para jurnalis ikut kena getahnya.

Nah, kini, televisi hampir tak lagi laku, saat internet mulai menguasai dunia maya. Sistem baru muncul. Mendobrak kemapanan, dan sekaligus mengejek kebakuan sistem yang selama ini ada. Sistem alam dan bercorak jalanan.

Gadget, YouTube, dan Youtubers

Gadget atau secara sederhana merujuk pada perangkat terknologi yang berukuran kecil, mulai merambah semua kalangan, baik itu orang tua, remaja bahkan anak-anak.

Tidak bisa dipungkiri memang gadged seolah menjadi prioritas utama bagi mereka. Anak-anak misalnya, bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam dengan menggunakan gadget. Entah itu dengan bermain game online, membuka channel youtube, dan mencari bahan belajar bagi mereka sendiri.

Seiring arus globalisasi dengan tuntutan kebutuhan pertukaran informasi yang lebih mudah menyebar sekarang ini. Gadget sangat dibutuhkan dan berperan cukup penting bagi kita semua. Sekarang ini sadar atau tidak sadar media cetak sudah mulai ditinggalakan dan memang kita semua mulai malas untuk membaca dan membawa buku misalnya.

Sebab gadget sangat praktis dalam menyimpan tulisan-tulisan, serta bagi mereka yang membutuhkan waktu yang cepat untuk dapat mengakses berita dan informasi terkini. Karena majalah dan koran umumnya membutuhkan waktu satu hari hingga beberapa hari lebih lambat untuk mengakses berita yang sedang terjadi.

Penulis: Sidi Mufi Imam
Publisher: Kiki Ana Aniz

Berita Terkait

Polsek Larangan Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba dan Bullying
Polda dan Polri Diminta Turun Tangan Terkait Kasus di Desa Campor
Polisi Selidiki Penemuan Jenazah Perempuan di Area Persawahan
Satlantas Polres Pamekasan dan Jasa Raharja Gelar Aksi Simpatik
Polairud Bersama Instansi Terkait Evakuasi Korban Laka Laut
Gabungan LSM di Pamekasan Ancam Gelar Aksi Susulan
Kepala DKP2KB Sumenep Tutup Mata Terkait Kasus Malpraktek
Kepala DKP2KB Sumenep Memilih Bungkam Terkait Malpraktek

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 10:32 WIB

Polsek Larangan Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba dan Bullying

Kamis, 9 Juli 2026 - 06:18 WIB

Polda dan Polri Diminta Turun Tangan Terkait Kasus di Desa Campor

Rabu, 8 Juli 2026 - 15:42 WIB

Polisi Selidiki Penemuan Jenazah Perempuan di Area Persawahan

Rabu, 8 Juli 2026 - 14:27 WIB

Satlantas Polres Pamekasan dan Jasa Raharja Gelar Aksi Simpatik

Selasa, 7 Juli 2026 - 15:22 WIB

Polairud Bersama Instansi Terkait Evakuasi Korban Laka Laut

Berita Terbaru

BERITA TERKINI

Polsek Larangan Berikan Penyuluhan Bahaya Narkoba dan Bullying

Kamis, 9 Jul 2026 - 10:32 WIB

BERITA TERKINI

Polda dan Polri Diminta Turun Tangan Terkait Kasus di Desa Campor

Kamis, 9 Jul 2026 - 06:18 WIB

BERITA TERKINI

Polisi Selidiki Penemuan Jenazah Perempuan di Area Persawahan

Rabu, 8 Jul 2026 - 15:42 WIB

BERITA TERKINI

Satlantas Polres Pamekasan dan Jasa Raharja Gelar Aksi Simpatik

Rabu, 8 Jul 2026 - 14:27 WIB

BERITA TERKINI

Polairud Bersama Instansi Terkait Evakuasi Korban Laka Laut

Selasa, 7 Jul 2026 - 15:22 WIB