Kerajinan Gerabah Terancam Punah

oleh

Penulis : Nanang

PAMEKASAN, SOROTPUBLIK.COMGerabah, juga kerap disebut tembikar dan diperkirakan telah ada sejak masa pra sejarah, yaitu dibuat sejak manusia hidup menetap dan mulai bercocok tanam beberapa ribu tahun sebelum tarikh Masehi.

Konon katanya, pada jaman itu produksi kerajinan gerabah yang proses pembentukan modelnya itu menggunakan keahlian tangan para pengrajin, rata-rata hasil produksinya banyak difungsikan sebagai perkakas rumah tangga atau keperluan religius seperti upacara dan penguburan.

Kearifan kerajinan lokal yang diwariskan secara turun ini, salah satunya ada di daerah Kecamatan Pademawu Pamekasan Madura Jawa Timur. Hingga saat ini, pengrajin gerabah di dusun setempat masih bisa dan mampu bertahan.

Pengrajin tersebut adalah Buk Supar. Wanita paruh baya yang berumur sekitar kurang lebih 80 tahunan ini, adalah Warga Dusun Asampitu, Desa Pademawu Barat Kecamatan Pademawu Pamekasan. Keahliannya menjadi pengrajin gerabah, adalah sebuah warisan dari orang tuanya yang juga diwarisi oleh para leluhurnya.

Keahliannya sebagai pengrajin gerabah tersebut, ia tekuni dan tetap berusaha dipertahankan  hingga sampai saat ini bersama beberapa teman sejawatnya yang berada di sejumlah dusun di desa setempat. Warisan leluhurnya yang dipertahankan tersebut, dijadikan sebagai sumber mata pencahariannya. Namun seiring perjalan waktu, modernisasi jaman membuat keberadaanya terancam punah karena regenerasinya telah diasingkan oleh pesatnya perkembangan teknologi.

“Kerajinan ini sudah membudaya secara turun temurun dari kakek nenek moyang kami sejak jaman dahulu, dan saya dijadikan sebagi penerus kerajinan gerabah ini dari orang tua yang di ajari sejak masa kecil,” Papar Buk Supar, dengan Nada suara penuh serak, Rabu (17/05).

Di Pulau Madura, kerajinan gerabah dilakukan oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari peralatan kebutuhan sehari-hari, yang secara tradisional sejak awal dibuat memberi corak yang hampir tanpa perubahan. Selain itu, proses pembuatannya serta model bentuknya, juga masih secara tradisional. Kerajinan gerabah, juga tidak semua wilayah di Madura mempunyai struktur tanah (liat) yang dapat difungsikan sebagai pembuatan grabah.