Topeng Dalang Madura, Menyimpan Segudang Makna

0
1334

Sorotpublik.com – Sumenep, Topeng Dalang Madura masih terbilang eksis sebagai kelompok kesenian masyarakat, utamanya dalam menjadi hidangan di setiap gelar kegiatan atau rokatan masyarakat Madura hingga hari ini. Meski sempat redup, dalam perjalanannya kesenian lokal yang satu ini telah menjadi komposisi ritual yang kembali mengakar dan memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut setidaknya tercermin dari kembali merebaknya pagelaran kesenian ini bahkan dalam bentuk serimonial tasyakkuran atau tanggapan hiburan sekalipun.
Tidak hanya sebagai pentas kesenian, sejatinya akar eksistensi Topeng Dalang Madura dapat dilihat sebagai ritualisasi masyarakat untuk mencapai nilai moksa yang sempurna. Seperti rokatan misalnya, ketika tidak menggunakan Topeng Dalang Madura dengan sendirinya prosesi akan berasa kurang afdal dan mantap. Karena itu, tak heran jika umumnya ada sesi tersendiri untuk melaksanakan ritual inti dalam skenario Topeng Dalang Madura. Yakni, setelah para pemain (aktor) menyelesaikan alur cerita, masih harus ada adegan khusus berupa kejar-kejaran antara makhluk (karakter) bernama Batarakala dengan si anak Pandawa.
Diceritakan, Batarakala adalah sejenis makhluk menyeramkan yang memiliki gigi panjang-tajam dan memakan daging serta meminum darah hewan maupun manusia. Dalam skenario cerita, Batarakala yang berada di atas kayangan mula-mula ditampilkan sedang kelaparan. Namun karena disana sudah tidak ada lagi yang bisa dimakan, maka orang tuanyalah yang menjadi sasaran santapan selanjutnya.
Akan tetapi karena orang tua si Batarakala cerdik, alhasil mereka bisa membuang atau menyuruh monster tersebut turun ke bumi untuk mencari anak Pandawa sebagai santapannya. Disitulah pokok cerita yang terkandung di dalam pertunjukan Topeng Dalang Madura. Pengejaran Batarakala terhadap Pandawa itu adalah sebagai inti ritual dari prosesi Rokat Pandawa (Rokat Pandhaba, red) yang sesungguhnya.
“Nah, Rokat Pandawa inilah yang menjadi inti dari kesenian Topeng Dalang Madura,” kata Syukri, salah satu pengamat kebudayaan asal Gapura, ketika menonton pentas Topeng Dalang Madura di acara Rokat Pandhaba, di Desa Gapura Barat, Kecamatan Gapura beberapa bulan lalu.
Sebagai sebuah indentitas budaya, lanjut Syukri, nilai yang terkandung dalam kesenian Topeng Dalang Madura juga melekat dalam keindahan tariannya yang menyimpan sejuta makna. Selain itu, nada gamelan yang menyimpan filosofi dalam setiap ketukan nada masing-masing, semakin mengiring hikmat pergelaran Topeng Dalang Madura. Ditambah lagi dengan petuah-petuah dalang yang meluncur kepada penonton bak mutiara kehidupan, menjadi sarana renung yang cukup efektif meski tak terasa.
Disisi lain, kosongnya pengaruh penokohan terhadap kehidupan sehari-hari aktor menjadi kelebihan tersendiri dari kesenian ini. Peran apapun dalam Topeng tidak akan mengubah sikap dan kepribadian aktor dalam kehidupan sehari-hari. Secara khusus, dalam seni peran ini para aktor hanya akan menyatu dengan perannya ketika topeng sudah dikenakan. Saat itu, bak tersengat aliran listrik, otomatis mereka berubah sesuai karakter penokahannya. Secara magis, ruh dalam topeng itu seolah masuk ke setiap diri aktor yang disebut sebagai “Sensasi Abadi”. Hal ini berlangsung hingga peran selesai dan topeng dilepaskan. Misalnya pada seorang aktor yang berperan sebagai perempuan dalam satu skenario pementasan, dengan sendirinya ia murni kembali ke pribadi asli laki-laki selama di luar panggung pertunjukan.
Dari sini dapat diketahui bahwa Topeng Dalang Madura benar-benar menjadi suatu identitas nilai budaya. Sehingga ketika orang luar Madura tahu dan menonton satu pertunjukan dari kesenian ini, mereka sudah dapat melihat Madura (setidaknya) dari kacamata budaya. Selain itu, mengidentitasnya Topeng dalam kebudayaan Madura juga memberikan pelurusan stigma kekerasan masyarakat yang kadung melekat dan didengungkan mayoritas orang di luar kita. Sebab dengan Topeng dan segala filosofi kelembutan dan kehalusan tindak-tanduk, tutur kata serta komposisi kultur lain di dalamnya, dapat menunjukkan identitas Madura sebenarnya bahwa Madura tidak sesadis seperti dalam cerita dan lebih beradab sesuai faktanya. (Hairul/Raf).

LEAVE A REPLY