Pemanfaatan Teknologi Gadget Offline Sebagai Sumber Belajar Alternatif

oleh
Akhmad Said Hidayat, S.Pd.SD. (Foto for SorotPublik)

Oleh: Akhmad Said Hidayat, S.Pd.SD*

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (UU No. 20 tahun 2003 pasal 1). Pendidikan merupakan tolok ukur sebuah peradaban bangsa dimana bangsa yang beradab bisa dilihat dari seberapa pesat majunya sebuah pendidikan di sebuah bangsa tersebut. Merosotnya bidang pendidikan di Indonesia jika dibandingkan dengan masa silam dikarenakan mental masyarakat yang puas dengan keadaan yang ada. Untuk menghindari akan hal itu, pemerintah berusaha dengan keras untuk memajukan pendidikannya dengan memperbaiki sistem pendidikan dalam negara termasuk perubahan kurikulum dan program wajib belajar 9 tahunnya.

Pendidikan Sekolah Dasar merupakan program wajib belajar 9 tahun dan merupakan pendidikan peletak dasar ilmu pengetahuan untuk jenjang pendidikan berikutnya. Dengan demikian, maka guru harus memiliki suatu keprofesionalan dalam menyampaikan dan mentransfer ilmu yang dimilikinya dengan memperhatikan kesesuaian antara model, metode, media, bahan ajar serta sumber belajar yang merupakan pendukung proses belajar yang akan memberikan perubahan yang manfaat positif dan dinamis.

Loading…

Dari hal tersebut guru diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan, baik tantangan global maupun tantangan geografis. Tantangan global dalam dunia pendidikan yaitu masuknya era global dengan akselarasi yang sangat cepat, baik akselarasi budaya sampai pada masuknya informasi yang sangat cepat. Dalam hal ini guru harus bisa menyeimbangkan antara informasi global dengan materi yang diajarkan oleh guru. Tantangan geografis dalam dunia pendidikan merupakan hal yang tidak bisa dipungkiri mengingat Indonesia merupakan negara yang sagat besar dengan kondisi geografis yang sangat berbeda di setiap daerah. Akselarasi informasi pun berbeda di setiap daerah, sehingga menyebabkan adanya ketimpangan kertentinggalan informasi antara daerah yang satu dengan daerah lain yang menyebabkan ketimpangan pengetahuan, pemahaman dan analisa sehingga berdampak pada budaya-budaya yang masih stagnant dan merasa puas dengan keaadaan yang ada.

Senada dengan tantangan global dan geografis tersebut, guru dituntut harus berupaya menginovasi diri. Upaya inovasi pendidikan sekolah dasar merupakan suatu tuntutan yang harus dilakukan setiap saat dan berkesinambungan. Selama ini masih banyak pihak yang kurang puas terhadap hasil pendidikan, sehingga hal itu perlu adanya inovasi pendidikan. Upaya inovasi ini penting karena kita dihadapkan pada ketidakpastian masa depan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat (Hera Lestari Mikarsa, dkk., 2005: 2.2).

Teknologi informasi yang begitu cepat tentunya ada media yang memfasilitasi ketersediaan akses informasi. Dan informasi tersebut bisa digunakan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan pada proses belajar mengajar, sehingga guru bisa mempermudah akses informasi valid. Ketersediaan sumber belajar yang beraneka ragam di sekitar kehidupan peserta didik tersebut samai saat ini belum dapat di kelola dan dimanfaatkan secara optimal di dalam pembelajaran. Sampai saat ini guru masih menjadi satu-satunya sumber belajar utama. Jika guru tidak hadir, maka sumber belajar yang lain, termasuk bukupun tidak dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, sehingga kehadiran guru secara fisik saat ini mutlak diperlukan.

Pemanfaatan buku sebagai gerakan literasi nampaknya menjadi ajang favorit di kalangan dunia pendidikan. Terbukti banyak di workshop, diklat bahkan di media sosial perbincangan tentang gerakan literasi, dan hal ini berdampak positif bagi peserta didik untuk mengasah kemampuan membaca dan keterampilan menulisnya. Namun dampak yang dirasa oleh peserta didik cenderung menjadi tekstual, dan kurang bahkan tidak kontekstual. Padahal, pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang disesuaikan dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran yang kontekstual. Selain itu, penggunaan buku sebagai satu-satunya sumber belajar di samping juga ada kendala terkait tidak meratanya akses peserta didik terhadap sumber belajar. Hal ini pulalah yang diperkirakan menjadi faktor dominan ketidakmerataan kualitas pendidika yang diterima oleh peserta didik.

Tulisan ini menawarkan alternatif pemanfaatan sumber belajar selain guru dan buku, dengan tidak mengenyampingkan kehadiran buku yang juga sangat dibutuhkan oleh peserta didik, yang ketersediannya sebenarnya sangat banyak dan familiar di kalangan masyarakat khususnya peserta didik namun masih belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam tulisan ini pemanfaatan sumber belajar selain guru dan buku lebih difokuskan pada pada pemanfaatan teknologi gadget offline sebagai sumber belajar alternatif, yang saat ini peluangnya sangat besar mengingat penggunaan gadget sudah menyeluruh di semua lapisan masyarakat.

Gadget merupakan suatu alat atau peranti yang memiliki tujuan dan fungsi praktis secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gadget dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruaan berukuran lebih kecil (wikipedia). Gadget merupakan peranti komputer yang dikompres sehingga menjadi super mini. Hampir semua tugas komputer bisa dilakukan oleh gadget. Di samping itu, gadget juga memiliki perangkat internet yang bisa terhubung dengan komputer lainnya. Dimana kecepatan internetnya bisa beragam. Gadget menggunakan sistem operasi yang berbeda dengan komputer pada umumnya. Dengan menggunakan sistem android yang dirancang untuk perangkat bergerak layar sentuh dan didukung dengan konten digital yang dimiliki oleh google play store yang merupakan toko daring terbesar di dunia. Dengan google play store bisa mendownload aplikasi yang dibutuhkan sesuai dengan keinginan.

Pemanfaatan sumber belajar juga bisa menggunakan google play store sebagai alternatif sumber belajar selain guru dan buku. Dimana google play store bisa menyajikan aplikasi-aplikasi yang kompatibel dengan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan materi yang diajarkan oleh guru. Sehinga, siswa lebih kontekstual dalam melakukan kegiatan pembelajaran dan siswa tidak berpikir secara imajinatif tentang suatu materi.

Sebagai contoh aplikasi gadget untuk pembelajaran sebagai berikut:

1. Aplikasi Audio Frequency Counter
Aplikasi ini sangat bagus digunakan pada materi frekuensi bunyi. Dimana aplikasi ini menghitung getaran/frekuensi bunyi secara detail dan menampilkan frekuensi dan tingkat kebisingan dalam bentuk grafik.
Dengan aplikasi ini siswa tidak lagi berimajinatif tentang frekuensi bunyi dan jenis bunyi karena aplikasi ini sudah bisa mengklasifikasi jenis frekuensi bunyi baik frekuensi infrasonik, audiosonik dan ultrasonik. Cukup mengaktifkan aplikasi ini semua bunyi akan terekam dan terukur oleh aplikasi ini sehingga pengukuran bisa lebih objektif.

2. Star Walk 2 Free
Aplikasi ini sangat bagus digunakan pada materi tata surya. Aplikasi ini bisa melihat pergerakan planet, matahari dan bintang yang membentuk rasi-rasi bintang. Cukup mengaktifkan aplikasi ini dan mengarahkan gadgetnya ke atas, samping atau ke bawah, maka aplikasi ini dengan bantuan GPS akan menampilkan semua yang ada di ruang angkasa dan siswa bisa mengamati secara objektif dan mencatat aktivitas matahari, planet dan lain sebagainya.

3. Lux Light Meret
Aplikasi ini sangat bagus untuk kegiatan proyek. Jika ingin mengadakan proyek penelitian yang membandingkan dua tanaman dengan intensitas cahaya yang berbeda, maka aplikasi inilah solusinya. Aplikasi ini bisa mengukur pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan dan bisa menampilkan intensitas cahaya secara average (rata-rata), sehingga bisa mengukur seberapa besar intensitas cahaya yang masuk dan terserap oleh tanaman.

4. Seismometer
Aplikasi ini sangat bagus jika siswa kesulitan dalam mengukur seberapa dahsyat ukuran gempa dengan satuan skala ritcher. Siswa masih berimajinatif seberapa besar gempa dalam ukuran skla ritcher. Maka aplikasi ini sangatlah bagus jika ingin mendemokan goncangan gempa dalam skala ritcher. Cukup mengaktifkan aplikasi dan ditaruh di meja, maka aplikasi ini akan menampilkan semua goncangan yang ada di meja dengan skala ritcher. Semakin keras goncangan di meja, maka semakin besar juga data yang ditampilkan di aplikasi.

Masih banyak aplikasi-aplikasi yang beredar di google play store yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar, sehingga siswa bisa lebih kontekstual dalam memahami materi. Namun, dari sumber belajar ini tentunya ada kelebihan dan kekurangannya.

Kelebihan sumber belajar gadget di antaranya:
1. Siswa lebih kontekstual dalam memahami materi
2. Lebih praktis, hanya melalui gadget sumber belajar sudah siap digunakan
3. Lebih efektif dan efisien
4. Dapat memicu terjadinya aktivitas dan kreativitas ilmiah pada siswa dalam mengguanakan sumber belajar gadget
5. Dapat mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual di rumah.

Sedangkan kekurangan sumber belajar gadget, di antaranya
1. Biaya pembelian gadget cukup mahal, sehingga sekolah harus membeli gadget dengan kapasitas gadget sesuai dengan yang diinginkan oleh aplikasi
2. Tidak bisa memenuhi semua siswa dalam menggunakan sumber belajar gadget dikarenakan keterbetasan perangkat, dan siswa harus kelompok untuk menggunakan gadget
3. Adanya spam dan iklan yang tidak mendidik

Solusi untuk meminimalisir kekurangan sumber belajar gadget ini bisa dilakukan dengan membeli gadget yang tidak ada slot SIM, sehingga harganya lebih murah dan mudah terjangkau. Gadget ini nantinya hanya menggunakan wifi untuk terhubung ke internet, sehingga koneksi pada internet lebih terbatas, dan spam dan iklan bisa diminimalisir.

Namun selain beberapa kekurangan yang memungkinkan masih banyak dijumpai dalam penggunaan gadget sebagai sumber balajar, para guru juga banyak menghadapi kendala yang terkait dengan kompetensi. Antara lain:
1. Sebagian besar guru dan dosen berasal dari generasi yang menangggapi keberadaan gadget dari sudut pandang yang berbeda, lambat dan malas belajar, cenderung gaptek.
2. Keterampilan guru dalam penggunaan gadget sebagai alat bantu pembelajaran masih terbatas, bahkan tidak sempat terpikirkan oleh guru.
3. Tidak ada yang mau untuk menggunakan potensi gadget dalam mendukung pembelajaran. Guru lebih asyik menggunakan aplikasi Facebook, WhatsApp, dan media sosial lainnya.

Semua kendala-kendala tersebut merupakan tantangan bagi guru dalam penggunaan gadget. Namun, tantangan tersebut bisa dilakukan upaya-upaya oleh guru sebagai berikut:
1. Meningkatkan kesadaran bahwa tekknologi informasi (gadget) saat ini merupakan kebutuhan.
2. Mulai memanfaatkan gadget untuk mendukung tugasnya. Dan memaksimalkan aplikasi yang ada di gadget untuk kebutuhan sehari-hari.
3. Dimulai dengan pemanfaatan gadget yang bersifat hiburan pendidikan.

*Guru SDN Aenganyar I, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep.

Loading...