Jejak K. Sawunggaling, Sang Eksekutor

oleh
K. Sawunggaling
Pasarean Kiai Sawunggaling bersama Istri di Asta Tinggi Sumenep. (Foto Em Farmuz/SorotPublik)
loading...

SUMENEP, SOROTPUBLIK.COM – Di komplek Asta Tinggi, pemakaman Raja-raja Sumenep, terdapat bangunan pendapa abad 18. Di salah satu tiangnya terdapat bekas sabetan senjata tajam yang cukup dalam untuk ukuran benda jenis kayu yang cukup bagus dan kuat. Sekira lebih kurang 5-7 cm dalamnya.

Sejatinya pendapa yang terletak di komplek menuju Asta para penguasa Sumenep sebelum awal abad 19 itu adalah pendapa pindahan dari keraton di Pajagalan. Pendapa itu merupakan pendapa di masa pemerintahan Ratu Tirtanegara dan suaminya, Bindara Saot (1750-1762 M).

“Pendapa dipindah di masa Panembahan Sumolo. Kemungkinan pada saat pembangunan keraton baru,” kata R. B. Ruska, Kepala Penjaga Asta Tinggi, Minggu (06/10/2019).

Loading...

Tidak dijelaskan kenapa pendapa itu dipindah. Yang jelas, pendapa itu menjadi saksi bisu peristiwa berdarah di masa-masa awal naiknya Bindara Saot ke singgasana Keraton Sumenep. Pendapa itu juga menjadi saksi keberanian seorang pengawal Raja bernama Kiai Sawunggaling, yang bersedia menjadi pengganti raja menghadapi serangan maut dari Patih Raden Purwanegara di tahun 1750 M.

Beralihnya tahta Sumenep ke tangan Bindara Saot yang notabene dari luar keluarga keraton membuat sang Patih, sekaligus saudara sepupu Ratu Tirtonegoro meradang. Pasalnya, Purwonegoro jatuh cinta pada sang Ratu, namun tak berbalas. Sejak menjanda pasca meninggalnya sang suami pertama, Ratu Rasmana, nama lain Ratu Tirtanegara, memang banyak yang melamar. Namun, tak satu pun yang diterima.

Isyarat langit kepada Ratu, membuat pilihan bersuami lagi jatuh pada sosok Bindara Saot. Seorang guru ngaji di Lembung, Lenteng. Putra Kiai Agung Abdullah di Batuampar.

Sejak Ratu menikah dengan Bindara Saot, sang Patih membelot. Ia tak lagi mengindahkan tugas-tugasnya. Sekaligus tidak pernah lagi menghadap ke keraton. Tak hanya itu, panggilan Raja kepadanya dibalas dengan tantangan terbuka yang ditujukan kepada Bindara Saot yang diejeknya dengan sebutan Orang Gunung.

Mendengar tantangan tersebut, Bindara Saot menyatakan menerima perang tanding satu lawan satu. Namun Ratu Tirtonegoro mencegahnya. Beliau menawarkan tugas menghukum Purwonegoro kenapa abdi dalemnya. Saat itulah berdiri Kiai Sawunggaling dan Kiai Singotruno. Sawunggaling merupakan prajurit, dan Singotruno seorang menteri.

Keduanya lantas menyusun siasat. Sawunggaling dihias dengan busana Raja. Dan Singotruno berpakaian pengawal biasa berdiri di samping “raja” yang tengah duduk di pendapa.

Mendengar “raja” tengah sendirian di pendapa dan hanya ditemani seorang pengawal biasa, Purwonegoro yang diselimuti amarah menuju keraton dengan pedang terhunus.

Dengan gerakan cepat dan tenaga yang difokuskan untuk membunuh, ia mengabarkan pedangnya ke tubuh Sawunggaling dari arah belakang. Insting prajurit pada diri Sawunggaling bekerja. Meski diserang dari belakang, Sawunggaling bisa mengelak dengan lihai. Pedangpun hanya menghantam tiang pendapa. Dan tak bisa dicabut. Saat itulah Sawunggaling yang langsung menghunus kerisnya menusukkan senjata tersebut ke tubuh Purwonegoro. Bersamaan dengan ujung tombak Kiai Singotruno yang juga diarahkan ke Patih pembangkang tersebut. Purwonegoro roboh, dan menghembuskan nafas terakhirnya di pendapa keraton.

Atas jasanya, Sawunggaling diangkat menjadi menteri, dan Singotruno diangkat menjadi Patih menggantikan Purwonegoro.

Asal-usul Kiai Sawunggaling hingga saat ini masih belum diketahui secara jelas. Menurut satu riwayat tutur, beliau bersaudara dengan Kiai Singotruno. Sedang Kiai Singotruno merupakan putra Kiai Rombu di Gapura, masih cucu Kiai Khatib Pranggan bin Pangeran Katandur.

Pasarean Kiai Sawunggaling berada kawasan luar komplek utama Asta Tinggi. Berdampingan dengan istrinya, tanpa cungkup dan sangat sederhana.

Akses menuju Asta Sawunggaling tidak mudah. Jalan berbatu dan semak belukar yang menutupi jurang-jurang mirip goa. Letaknya di sebelah barat Pasarean Ibunda Pangeran Le’nan yang dikenal dengan Cungkup uniknya. Jika dari jalan raya sekitar kurang lebih 200 meter ke arah barat.

Penulis: Em Farmuz
Editor: Heri/Kiki