Sapi, dari Karapan hingga Aretan (2)

oleh -591 views
Karapan Sapi
Ilustrasi Karapan Sapi di Kabupaten Sumenep. (Foto: Istimewa)

SUMENEP, SOROTPUBLIK.COM – Seiring dengan berputarnya roda zaman, “upacara panen” yang semula hanya spontanitas lama-kelamaan digelar secara rutin dan dilembagakan. Di zaman Panembahan Sumolo, upacara panen yang dikenal dengan Karapan Sapi itu selanjutnya berevolusi menjadi simbol kebudayaan rakyat yang identik dengan masyarakat Madura.

Namun menurut salah satu tokoh budayawan Madura asal Sumenep, almarhum R P Abd Sukur Notoasmoro, Karapan Sapi justru berawal di masa Panembahan Sumolo alias Notokusumo putra Bindara Saut, yang notabene merupakan keturunan Pangeran Katandur. Masa keduanya diselingi waktu sekitar satu setengah abad.

“Tradisi ini diciptakan oleh Panembahan Sumolo untuk menggairahkan sektor tani di masa kemarau,” kata RP Abd Sukur, seperti yang ditirukan salah satu menantunya, DR Mohammad Saidi, beberapa waktu yang lalu.

Di kala itu, budaya tersebut berfungsi juga sebagai penghibur para petani. Mengingat masa kemarau merupakan masa paceklik yang menyulitkan para petani. Ketika itu, Panembahan Sumolo dikisahkan turun langsung dan menciptakan hiburan tersebut.

“Petani disuruh membajak ladang dengan sapi dan dikemas melalui lomba pacuan sapi. Sehingga dari sanalah istilah karapan itu muncul. Yaitu dari kata garapan,” jelas Mohammad Saidi.

Kegiatan itu lantas populer dari tahun ke tahun. Istilah garapan juga lantas berubah menjadi “kerapan atau karapan sapi”. Para petani juga tambah tertantang untuk membesarkan sapi. Sehingga, sapi kemudian menjadi komoditas mahal di Sumenep bahkan Madura pada umumnya.

“Aturan lomba karapan kala itu juga unik. Lomba tersebut ada dua babak. Babak pertama untuk menentukan dua kelompok, yaitu kelompok menang dan kelompok kalah,” kata Saidi.

Lalu setelah babak pertama itu masuklah pada babak kedua, yaitu mengadu juara dari antar kelompok tersebut. Sehingga di kala itu ada dua pemenang, yaitu yang berasal dari “kelompok menang” dan yang berasal dari “kelompok kalah”.

“Filosofinya jelas, menang atau kalah sama-sama dihargai,” tutup Saidi.

Buntut dari Sapi Sono’
Selain Karapan Sapi, lebih kurang setengah abad silam, muncul tradisi baru yang sejenis. “Artisnya” ya, tetap sapi. Hanya saja, bintangnya sapi perempuan. Karena perempuan, kemasan yang disodorkan beda, yaitu kontes kecantikan nyonya atau nona sapi. Populer dengan sebutan Sapi Sono’.

Puluhan tahun kemudian, tradisi baru muncul lagi. Tradisi yang hidup di kampung Pogak, Desa Palalang, Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan dikenal dengan nama Aretan Sapi.

Aretan Sapi merupakan tradisi unik yang dimiliki masyarakat di situ. Tradisi ini berbeda dengan Sapi Sono’ yang dimiliki kaum papan atas dan Karapan Sapi yang sudah tersohor dan menjadi ikon Madura.

“Aretan sapi hanya sebuah tradisi khas kampung Pogak dan sedikit berbeda dengan Sapi Sono’,” tutur Ahmad, warga setempat, beberapa waktu lalu.

Menurutnya pula, Aretan Sapi bermula karena inisiatif masyarakat yang tidak bisa ikut dalam ajang Sapi Sono’.  Sementara dalam pelaksanaannya, beberapa sapi didandani dengan cara sederhana yang kemudian diiringi musik Saronen dari melalui pengeras suara.

“Aretan sapi juga dibentuk dengan sistem perkumpulan bagi masyarakat yang juga diadakan khas khusus. Selain itu aretan sapi juga dibentuk dengan sistem perkumpulan layaknya arisan dan setiap hari Jumat ganti lokasi,” imbuh Ahmad. (Habis)

Penulis: Sidi Mufy Imam
Publisher: Kiki Ana Aniz