Heboh, Warga Pulau Buru Mengaku Seorang Raja. Ternyata…

oleh
Irwan Latbual Mengaku Raja
Alvin Armando Wael, Anak Adat Petuanan Kaiely, Pulau Buru, Maluku. (Foto: Adam S/SorotPublik)
loading...

BURU, SOROTPUBLIK.COM – Alvin Armando Wael mengklaim kunjungan Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) ke Pulau Buru telah dimanfaatkan oleh Irwan Latbual untuk kepentingan pribadinya. Hal itu terlihat saat Irwan Latbual mengaku Raja Buru kepada wartawan di Namlea, Kabupaten Buru, Maluku, Jumat (06/09/2019).

Alvin Armando mengatakan, pernyataan Irwan Latbual merupakan sebuah kebohongan, karena menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta. Apalagi, yang bersangkutan tidak mempunyai wewenang sedikit pun dalam ptanata adat Buru.

Dijelaskan anak adat Petuanan Kaiely itu, Pulau Buru merupakan wilayah yang sangat luas yang terdiri dari tujuh petuanan yang dipimpin oleh seorang raja dan mempunyai wewenang dalam adat dan pemerintahan.

Loading...

“Jadi, dia, Irwan Latbual itu pembohong kecil, karena mengaku-ngaku sebagai Raja Buru. Kita masyarakat di Buru semua tahu bahwa Pulau Buru ini luas. Dan terdiri dari 7 Regentchap atau Petuanan yang masing-masing Petuanan dipimpin seorang raja. Jadi, ada 7 Raja yang memimpin sekaligus menjaga pranata adat di Pulau Buru dan punya pusat pemerintahan juga,” ungkap Alvin, Jumat (06/09/2019).

Ia menegaskan, kedatangan Irwan Latbual bukanlah bagian dari rombongan kunjungan DPR RI. Sebab, Komisi V DPR RI punya agenda khusus yang sudah diketahui pemerintah daerah dan Raja Petuanan Kaiely, Fandi Ashari Wael.

“Saya ingin mempertegas terkait informasi kedatangan Irwan Latbual yang mengaku-ngaku sebagai Raja Buru itu bahwa Irwan Latbual bukanlah bagian dari Kunjungan Komisi V DPR RI,” tegas Alvin.

Akibat kejadian itu, kerusuhan pun tak terhindarkan di dataran Waeapo. Sehingga, Raja Petuanan Kaiely, Fandi Ashari Wael harus ikut turun tangan untuk menenangkan masyarakat adat siang tadi di dataran Waeapo (Wabsalit).

“Sebenarnya tak elok kita sesama anak adat saling menjatuhkan. Namun jika persoalannya sudah menyangkut simbol pranata adat, maka memang harus dikoreksi dan wajib menyampaikan kondisi yang sebenarnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai anak adat,” ujar Alvin.

Namun, ternyata tindakan Irwan Latbual itu bukan yang pertama kalinya di Pulau Buru. Sebelumnya, yang bersangkutan juga mengaku sebagai profesor dan berujung hingga ke ranah hukum atas dasar penipuan dan pencemaran nama baik adat.

“Dulu juga pernah melakukan hal yang sama, datang ke Buru dan belum punya gelar Prof. Saat ini saya dengar udah Prof ya? Nah saat itu bahkan sampai berujung ke ranah hukum (penipuan) dan mencemarkan nama adat, sehingga ia ditegur keras Raja Petuanan Kaiely pada saat itu, ayah saya Alm. Raja M. Fuad Wael,” pungkas Alvin.

Penulis: Adam S
Editor: Helmy